Partograf

Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan persalinan, asuhan, pengenalan penyulit dan informasi untuk membuat keputusan klinik.

Jika digunakan secara tepat dan konsisten, maka partograf akan membantu penolong persalinan untuk :

  • mencatat kemajuan persalinan
  • mencatat kondisi ibu dan janinnya
  • mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran
  • menggunakan informasi yang tercatat untuk secara dini mengidentifikasi adanya penyulit
  • menggunakan informasi yang ada untuk membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu.

Info tentang partograf lebih lanjut silakan klik  Partograf

Posted in Uncategorized | Comments Off on Partograf

Mekanisme Gerakan Kepala Janin pada Persalinan Normal

Mekanisme gerakan kepala janin pada persalinan normal

Pada saat terjadi penurunan janin, jaringan lunak dan struktur tulang memberi tekanan yang menyebabkan turunnya janin melalui jalan lahir dengan serangkaian gerakan. Secara kolektif, gerakan ini disebut mekanisme persalinan. Selama kelahiran pervaginam, presentasi janin, posisi, dan ukuran janin akan menentukan mekanisme yang tepat karena janin berespons terhadap tekanan eksternal (Myles, 2009).

Mekanisme persalinan merupakan gerakan janin dalam menyesuaikan dengan ukuran dirinya dengan ukuran dirinya dengan ukuran panggul saat kepala melewati panggul. Mekanisme ini sangat diperlukan mengingat diameter janin yang lebih besar harus berada pada satu garis lurus dengan diameter paling besar dari panggul.

Adapun gerakan-gerakan janin dalam persalinan/gerakan kardinal menurut Myles (2009) dan Sumarah (2008) adalah sebagai berikut :

engagement descent flexion

  1. Penurunan kepala (engagement)

Penurunan kepala janin ke dalam pelvis biasanya dimulai sebelum persalinan dimulai. Janin ibu nulipara biasanya turun ke dalam pelvis selama minggu terakhir kehamilan sedangkan pada multigravida, tonus otot biasanya lebih lemah dan dengan demikian, engagement tidak terjadi hingga persalinan benar-benar dimulai. Selama kala satu persalinan, kontraksi dan retraksi otot uterus menyebabkan ruang dalam uterus menjadi lebih sempit, memberikan tekanan pada janin untuk menurun. Setelah ruptur forewater dan pengerahan upaya maternal, kemajuan persalinan dapat terjadi dengan cepat.

2. Fleksi

Fleksi meningkat selama persalinan. Tulang belakang janin bersentuhan lebih dekat dengan bagian posterior tengkorak; tekanan ke bawah pada aksis janin akan lebih mendesak oksiput daripada sinsiput. Efeknya adalah meningkatkan fleksi, menyebabkan diameter presentasi yang lebih kecil yang akan melewati pelvis dengan lebih mudah. Pada awitan persalinan, terjadi presentasi suboksipital yang berdiameter rata-rata sekitar 10 cm; dengan fleksi yang lebih besar, terjadi presentasi suboksitobregmatik dengan diameter rata-rata sekitar 9,5 cm. Oksiput menjadi bagian yang terdepan.

3. Rotasi internal kepala

Rotasi internal kepala (putar paksi dalam) adalah pemutaran bagian terendah janin dari posisi sebelumnya kearah depan sampai dibawah simpisis. Bila presentasi belakang kepala dimana bagian terendah janin adalah ubun-ubun kecil maka ubun-ubun kecil memutar kedepan sampai berada dibawah simpisis. Gerakan ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan dengan bentuk jalan lahir yaitu bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Rotasi dalam terjadi bersamaan dengan majunya kepala. Rotasi ini terjadi setelah kepala melewati Hodge III (setinggi spina) atau setelah didasar panggul. Pada pemeriksaan dalam ubun-ubun kecil mengarah ke jam 12.

Sebab-sebab adanya putar paksi dalam yaitu :

1)    Bagian terendah kepala adalah bagian belakang kepala pada letak  fleksi.

2)    Bagian belakang kepala mencari tahanan yang paling sedikit yang disebelah depan atas yaitu hiatus genitalis antara muskulus levator ani kiri dan kanan.

4. Ekstensi kepala

Gerakan ekstensi merupakan gerakan dimana oksiput berhimpit langsung pada margo inferior simpisis pubis. Karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan atas, sehingga kepala menyesuaikan dengan cara ekstensi agar dapat melaluinya. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul tidak langsung terekstensi, akan tetapi terus didorong kebawah sehingga mendesak ke jaringan perineum. Pada saat itu ada dua gaya yang mempengaruhi, yaitu :

1)    Gaya dorong dari fundus uteri ke arah belakang.

2)    Tahanan dasar panggul dan simpisis kearah depan.

Hasil kerja dari dua gaya tersebut mendorong ke vulva dan terjadinya ekstensi. Gerakan ekstensi ini mengakibatkan bertambahnya penegangan pada perineum dan intruitus vagina. Ubun-ubun kecil semakin banyak terlihat dan sebagai hypomochlion atau pusat pergerakan maka berangsur-angsur lahirlah ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar, dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Pada saat kepala sudah lahir seluruhnya, dagu bayi berada di atas anus ibu.

5. Rotasi luar

Gerakan rotasi luar merupakan gerakan memutar ubun-ubun kecil ke arah punggung janin, bagian belakang kepala berhadapan dengan tuber iskhiadikum kanan atau kiri, sedangkan muka janin menghadap salah satu paha ibu. Bila ubun-ubun kecil pada mulanya disebelah kiri maka ubun-ubun kecil akan berputar ke arah kiri, bila pada mulanya ubun-ubun kecil disebelah kanan maka ubun-ubun kecil berputar ke kanan.

Gerakan rotasi luar atau putar paksi luar ini menjadikan diameter biakromial janin searah dengan diameter anteroposterior pintu bawah panggul, dimana satu bahu di anterior di belakang simpisis dan bahu yang satunya di bagian posterior di belakang perineum, sutura sagitalis kembali melintang.

6. Ekspulsi

Setelah terjadinya rotasi luar, bahu depan berfungsi sebagai hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah kedua bahu lahir disusui lahirlah trochanter depan dan belakang sampai lahir janin seluruhnya. Gerakan kelahiran bahu depan, bahu belakang, badan seluruhnya.

Posted in Uncategorized | Comments Off on Mekanisme Gerakan Kepala Janin pada Persalinan Normal

Konsep Dasar Persalinan

KONSEP DASAR PERSALINAN

  1. Pengertian Persalinan

Persalinan adalah suatu proses fisiologis yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melaui jalan lahir (Moore, 2001). Persalinan adalah suatu proses dimana seorang wanita melahirkan bayi yang diawali dengan kontraksi uterus yang teratur dan memuncak pada saat pengeluaran bayi sampai dengan pengeluaran plasenta dan selaputnya dimana proses persalinan ini akan berlangsung selama 12 sampai 14 jam (Mayles, 1996). Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus ke dunia luar (Prawirohardjo, 2002). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37–42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. (Prawirohardjo, 2002).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, berlangsung dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan ibu sendiri).

 

  1. Sebab Mulainya Persalinan

Sebab-sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas. Agaknya banyak faktor yang memegang peranan dan bekerjasama sehingga terjadi persalinan. Beberapa teori yang dikemukakan adalah : penurunan kadar progesteron, teori oxitosin, keregangan otot-otot, pengaruh janin, dan teori prostaglandin

  1. Penurunan Kadar Progesteron

Progesterone menimbulkan relaxasi otot-otot rahim, sebaliknya estrogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.

  1. Teori Oxitosin

Pada akhir kehamilan kadar oxitocin bertambah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.

  1. Keregangan Otot-otot

Seperti halnya dengan Bladder dan Lambung, bila dindingnya teregang oleh isi karena bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.

  1. Pengaruh Janin

Hipofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang peranan oleh karena pada anencphalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.

  1. Teori Prostaglandin

Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua disangka menjadi salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara intravena, intra dan extra amnial menimbulkan kontraksi miometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar prostaglandin, yang tinggi baik dalam air ketuban maupun daerah perifer pada ibu-ibu hamil, sebelum melahirkan atau selama persalinan.

  1. Tahapan Persalinan
  2. Kala I

Partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang bersemu darah (Bloody Show). Lendir yang bersemu darah ini berasal dari lendir canalis servicalis karena serviks mulai membuka atau mendatar. Sedangkan darahnya berasal darah dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada disekitar canalis servicalis itu pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka. Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase, pertama Fase Laten: berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm dan, kedua, Fase Aktif: dibagi dalam 3 fase, yaitu: 1) Fase Akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm; 2) Fase Dilatasi Maximal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm; dan 3) Fase Deselerasi: pembukaan menjadi lambat sekali dalam 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.

Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida terjadi demikian akan tetapi fase laten, fase aktif dan fase deselerasi terjadi lebih pendek.

Mekanisme pembukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan multigravida. Pada yang pertama ostium uteri interna akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis baru kemudian ostium uteri eksternum membuka. Pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka. Ostium uteri internum dan eksternum serta penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang sama.

Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hampir atau telah lengkap. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap/telah lengkap. Bila ketuban telah lengkap sebelum mencapai pembukaan 5cm, disebut KPD. Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 11 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam.

 

  1. Kala II

Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2-3 menit sekali. Karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masukdi ruang panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa pula tekanan kepala rectum dan hendak buang besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his.

Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar his, dan dengan his dan kekuatan mengejan maksimal kepala janin dilahirkan dengan sub oksiput dibawah simfisis dan dahi, muka, dan dagu melewati perineum. Setelah istirahat sebentar, his mulai lagi mengeluarkan badan anggota bayi. Para primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 jam.

  1. Kala III

Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit. Dengan lahirnya bayi, sudah mulai pelepasan plasenta pada lapisan Nitabusch, karena sifat retraksi otot rahim. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda dibawah ini :

  1. Uterus menjadi bundar
  2. Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim
  3. Tali pusat bertambah panjang
  4. Terjadi semburan darah
  5. Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara crede pada fundus uteri.
  6. Kala IV

Masa 1 jam setelah plasenta lahir. Walaupun sebenarnya masa ini merupakan 1 jam pertama dari masa nifas, tetapi dari segi praktis masa ini sebaiknya dimasukkan dalam persalinan karena pada masa ini sering timbul perdarahan oleh karena itu penderita harus tetap dikamar bersalin tidak boleh dipindahkan ke ruangan, supaya dapat diawasi dengan baik. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada masa ini.

  1. Tujuan Asuhan Persalinan

Memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi. Banyak penyulit atau komplikasi yang mengakibatkan kematian ibu dan bayi dapat dihindarkan jika persalinan dikelola dengan baik. Semua kelahiran harus selalu dihadiri oleh petugas yang terlatih serta kompeten dengan secara cepat mendiagnosa dan menangani penyulit. Pendekatan komprehensif merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan persalinan dan bayi baru lahir.

  1. Lima benang merah dalam asuhan persalinan, meliputi: membuat keputusan klinik, pengumpulan data, diagnosis kerja, penatalaksanaan klinik, dan evaluasi hasil implementasi tatalaksana
  2. Asuhan sayang ibu dan bayi, yakni: bahwa persalinan merupakan peristiwa alami, sebagian besar persalinan umumnya akan berlangsung normal, pertolongan memfasilitasi proses persalinan, dan tidak asing, bersahabat, rasa saling percaya, tahu dan siap membantu kebutuhan klien, memberi dukungan moril, dan kerjasama semua pihak (penolong-klien-keluarga)
  3. Pencegahan infeksi, yang meliputi: kewaspadaan standar, mencegah terjadinya dan transmisi penyakit, proses pencegahan infeksi instrumen dan aplikasinya dalam pelayanan, barier protektif, dan budaya bersih dan lingkungan yang aman.
  4. Rekam medik (Dokumentasi), yaitu:
  5. Anamnesis, prosedur dan hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, dan uji atau penapisan tambahan lainnya
  6. Partograf sebagai instrumen membuat keputusan dan dokumentasi klien
  7. Kesesuaian kondisi klien dan prosedur klinik terpilih
  8. Upaya dan tatalaksana rujukan yang diperlukan
  9. Sistem rujukan efektif, yang meliputi:
  10. Alasan keperluan rujukan
  11. Jenis rujukan (darurat atau optimal)
  12. Tatalaksana rujukan
  13. Upaya yang dilakukan selama merujuk
  14. Jaringan pelayanan dan pendidikan
  15. Menggunakan sistem umum dan sistem internal rujukan kesehatan

Sebagai bidan, klien akan mengandalkan pengetahuan, keterampilan dan pengambilan keputusan yang kita lakukan untuk :

  1. Mendukung ibu dan keluarganya secara fisik dan emosional selama persalinan dan kelahiran.
  2. Membuat diagnosa, menangani komplikasi-komplikasi dengan cara pemantauan ketat dan deteksi dini selama persalinan dan kelahiran.
  3. Merujuk ibu untuk mendapatkan asuhan spesialis jika perlu.
  4. Memberikan asuhan yang akurat kepada ibu, dengan intervensi minimal, sesuai dengan tahap persalinannya.
  5. Memperkecil resiko infeksi dengan melaksanakan pencegahan infeksi yang aman.
  6. Selalu memberitahukan pada ibu dan keluarganya mengenai kemajuan, adanya penyulit maupun intervensi yang akan dilakukan dalam persalinan.
  7. Memberikan asuhan yang tepat untuk bayi segera setelah lahir.
  8. Membantu ibu dengan pemberian asi dini.
  9. Tanda-tanda Persalinan
  10. Tanda Persalinan Sudah Dekat
  11. Adanya LighteningMenjelang minggu ke-36, pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul. Gambaran Lightening pada primigravida menunjukkan hubungan antara ketiga P, yaitu power (kekuatan his), passage (jalan lahir normal), passanger (janinnya dan plasenta).
  12. Terjadinya his permulaan (his palsu)

Sifat his permulaan (his palsu):

  • Rasa nyeri ringan di bagian bawah
  • Datangnya tidak teratur
  • Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
  • Durasinya pendek
  • Tidak bertambah bila beraktifit

 

  1. Tanda Persalinan
  2. Penipisan dan pembukaan serviks (Effacement dan Dilatasi serviks)Effacement serviks adalah pemendekan dan penipisan serviks selama tahap pertama persalinan. Serviks yang dalam kondisi normal memiliki panjang 2 sampai 3 cm dan tebal sekitar 1 cm, terangkat ke atas karena terjadi pemendekan gabungan otot uterus selama penipisan segmen bawah rahim pada tahap akhir persalinan. Hal ini menyebabkan bagian ujung serviks yang tipis saja yang dapat diraba setelah effacement lengkap. Pada kehamilan aterm pertama, effacement biasanya terjadi lebih dahulu dari pada dilatasi.. Pada kehamilan berikutnya, effacement dan dilatasi cenderung bersamaan. Tingkat effacement dinyatakan dalam persentase dari 0% sampai 100%. Dilatasi serviks adalah pembesaran atau pelebaran muara dan saluran serviks, yang terjadi pada awal persalinan. Diameter meningkat dari sekitar 1 cm sampai dilatasi lengkap (sekitar 10 cm) supaya janin aterm dapat dilahirkan. Apabila dilatasi serviks lengkap, serviks tidak lagi dapat di raba. Dilatasi serviks lengkap menandai akhir tahap pertama persalinan
  3. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit). Ibu melakukan kontraksi involunter dan volunter secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dari uterus. Kontraksi uterus involunter, yang disebut kekuatan primer, menandai dimulainya persalinan. Kekuatan primer membuat serviks menipis, berdilatasi dan janin turun. Segera setelah bagian presentasi mencapai dasar panggul, sifat kontraksi berubah, yakin bersifat mendorong keluar. Kekuatan sekunder tidak mempengaruhi dilatasi serviks, tetapi setelah dilatasi serviks lengkap, kekuatan ini cukup penting untuk mendorong bayi keluar dari uterus dan vagina
  4. Keluarnya lendir bercampur darah (Show) melalui vagina.Sumbatan mukus, yang di buat oleh sekresi servikal dari proliferasi kelenjar mukosa servikal pada awal kehamilan, berperan sebagai barrier protektif dan menutup kanal servikal pada awal kehamilan. Blood show adalah pengeluaran dari mukus plug tersebut. Blood show merupakan tanda dari persalinan yang sudah dekat, yang biasanya terjadi dalam jangka waktu 24-48 jam terakhir, asalkan belum dilakukan pemeriksaan vaginal dalam 48 jam sebelumnya karena pemecahan mukus darah selama waktu tersebut mungkin hanya efek trauma minor atau pecahnya mukus plug selama pemeriksaan. Normalnya, darah yang keluar hanya beberapa tetes, perdarahan yang lebih banyak menunjukan penyebab yang abnormal.

 

Posted in Uncategorized | Comments Off on Konsep Dasar Persalinan

Hello world!

Selamat datang di Blog Dosen UNIMUS. Anda telah berhasil mendaftarkan blog Anda di Blog Dosen UNIMUS. Silahkan login menggunakan username dan password yang telah dikonfirmasi. Untuk desain, ubahlah theme standart Anda ke theme yang sudah kami sediakan sesuai dengan yang Anda sukai.

Terima kasih
TIK UNIMUS

Posted in Uncategorized | 1 Comment